Bolehkah Aku Membeli Waktu Papa 1 jam saja ? (Sebuah Renungan)

Archived in the category: Jalan Kehidupan
Posted by sholihin on 09 Jan 14 - 0 Comments

Beberapa hari lalu aku membaca satu cerita yang sangat menyentuh nurani bagiku, silahkan simak cerita dibawah ini dan resapi makna dan isinya, sungguh bisa menjadi bahan pelajaran bagi para orang tuanya terhadap pentingnya kasih sayang dan waktu untuk keluarga .

Pada suatu hari, seorang Ayah pulang dari bekerja pukul 21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah. Sepertinya ia sudah menunggu lama.”Kok belum tidur?” sapa sang Ayah pada anaknya.

Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari.”Aku menunggu Papa pulang , karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?””Lho,tumben, kok nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta uang lagi ya?””Ah, nggak pa, aku sekedar..pengin tahu aja…””Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!”Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman.

Ketika sang Ayah ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.”jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!””Kamu pinter, sekarang tidur ya..sudah malam!” tapi sang anak tidak mau beranjak.”Papa, aku boleh pinjam uang Rp 10.000 nggak?””Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah, besok pagi saja. Sekarang kamu tidur…””Tapi papa…””Sudah, sekarang tidur…” suara sang Ayah mulai meninggi.Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya.

Sang Ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang-terisak-isak sambil memegang uang Rp 30.000.Sambil mengelus kepala sang anak, Papanya berkata”Maafin Papa ya! kenapa kamu minta uang malam-malam begini..besok kan masih bisa. Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu juga boleh. Kamu mau pakai buat beli mainan khan?….””Papa, aku ngga minta uang. Aku pinjam…nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku.””Iya..iya..tapi buat apa??” Tanya sang Papa.”

Aku menunggu Papa pulang hari ini dari jam 8. aku mau ajak Papa main ular tangga. Satu jam saja pa, aku mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, tapi cuma ada uang Rp 10.000. tapi Papa bilang, untuk satu jam Papa dibayar Rp 40.000.. karena uang tabunganku hanya Rp.30.000,- dan itu tidak cukup, aku mau pinjam Rp 10.000 dari Papa…”Sang Papa cuma terdiam.

Ia kehilangan kata-kata. Ia pun memeluk erat anak kecil itu sambil menangisMendengar perkataan anaknya, sang Papa langsung terdiam, ia seketika terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis.. ia lalu segera merangkul sang anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..”Maafkan Papa sayang…” ujar sang Papa.”Papa telah khilaf, selama ini Papa lupa untuk apa Papa bekerja keras…maafkan Papa anakku…” kata sang Papa ditengah suara tangisnya. Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang Papa…

Apa pendapat anda tentang cerita renungan diatas ?

RELA BERKORBAN DEMI ADIK ADIK NYA

Archived in the category: Jalan Kehidupan
Posted by sholihin on 16 Apr 13 - 0 Comments

Kisah Tasripin, Bocah 12 Tahun yang Harus Menghidupi Ketiga Adiknya

Arbi Anugrah – detikNews

 

 

Jakarta – Jauh di sebuah Dusun di Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Tasripin (12) bocah tanggung dari Dusun Pesawahan harus hidup sendiri dan mencari nafkah untuk menghidupi ketiga adiknya Dandi (9) Riyanti (7) dan Daryo (5). Tasripin harus bekerja di sawah agar adik-adiknya tetap bisa makan.

Di rumah bilik kayu dengan luas 5×7 meter persegi dengan satu ruang kamar luas 3×3 meter persegi dan sebuah dapur dengan tungku kayu bakar serta isi perabotan yang sangat sederhana dan hanya terdapat dua buah kursi panjang dan satu meja, beralaskan lantai semen yang sudah pecah, hidup empat bocah sebatang kara. Ayah mereka pergi bekerja di Kalimantan bersama kakak tertuanya, sementara ibunya meninggal akibat tertimbun longsor saat sedang mencari pasir satu tahun lalu.

Kini bocah-bocah tersebut harus hidup sebatang kara dan tidur dalam satu kamar dengan kasur dan bantal yang sudah tampak lusuh dengan ditutupi matras. Ketiga adiknya sangat mengandalkan kakak kedua mereka, Tasripin, yang setiap hari harus bekerja di sawah dengan mencangkul, membersihkan sisa-sisa padi serta menanam padi bersama warga desa pada saat masa tanam.

“Ibu sudah meninggal dan bapak bekerja di Kalimantan bersama kakak,” kata Tasripin, Jumat (12/4/2013).

Hampir setiap hari, Tasripin mesti pergi ke sawah untuk mencari uang demi menghidupi ketiga adiknya. Para tetangga sekitar yang simpati dengan keadaan Tasripin pun kadang sering membantu menberikan nasi maupun lauk pauk bagi bocah-bocah tersebut. Tak jarang mereka hanya makan dengan nasi seadanya namun tampak nikmat.

“Kalau berangkat ke sawah jam 7 pagi dan pulang jam 12 siang. Kadang sehari dapet Rp. 30 – 40 ribu sehari. Itu beli beras dan sayur. Sisanya untuk jajan adik,” jelas bocah yang telah putus sekolah itu.

Pagi sebelum dia berangkat ke sawah, Tasripin harus memasak nasi dan sayur untuk adik-adiknya. Selain memasak, dia juga harus mencuci pakaian, menyapu serta memandikan adik-adiknya. Tapi bukan hanya sekedar memandikan dan memberikan makan untuk adik-adiknya, dia pun bertanggung jawab terhadap akhlak adik-adiknya dengan mengajak adik-adiknya salat dan mengaji di musala depan rumahnya.

Tanggung jawab yang besar membuat dia harus bekerja keras, tidak jarang jika tidak mendapatkan pekerjaan, dia harus mengutang beras di warung. “Kalau tidak ada uang suka utang di warung, bayarnya nanti kalau bapak pulang,” katanya.

Saat ini Tasripin harus berhenti bersekolah, karena menunggak biaya SPP, sementara kedua adiknya Dandi dan Riyanti pun tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek oleh teman-temannya. Hanya Daryo, adik terakhirnya yang masih bersekolah di PAUD di dusun tersebut.

“Sudah tidak sekolah SD, hanya satu adik saya yang sekolah di Paud, Kadang saya yang biayain, kadang menunggu kiriman dari bapak,” ujarnya polos.

Dulu saat sekolah dia harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer untuk mencapai tempat sekolahnya, jalan berbatu dan perbukitan serta hutan harus dilalui dia setiap harinya. Maklum, Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok berada di lereng kaki Gunung Slamet demgan jumlah penduduk 319 Jiwa dengan 187 rumah.

(trq/trq) sebagaimana dikutib dari detik.com

 

INSPIRASI GENERASI MUDA DAN KEPAHLAWANAN

Archived in the category: Jalan Kehidupan
Posted by sholihin on 27 Mar 13 - 0 Comments

Rabu, 19 Desember 2012 Tim Litbang Pelita

Kesamaan Soekarno, Sudirman dan Soeharto dalam Membela Bangsa

Peringatan bela negara diperingati tiap tanggal 19 desember, hal ini sebagai refleksi terharap perjuangan geliya panglima besar Jendral Sudirman. Sebagai bentuk prosesi sakral para kadet TNI biasanya melakukan napaktilas menempuh rute gerilya yang pernah dilalui panglima besar Sudirman sejauh 200 kilometer. Lalu apa urgensi atau semangat yang perlu di teladani dari peristiwa tersebut bagai generasi kini. Masihkah ada relevansinya terhadap masyarakat kita dewasa ini dan seperti apa bentuk konkrit membela negara.

Sejarah mencatat pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda kembalai melancarkan Agresi militer terhadap bangsa indonesia. Pertempuran yang dilancarkan Belanda pada pukul 6.00 pagi, menyerang Yogya. Pelecehan terhadap kedalualatan republik oleh belanda dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden dan Wakil Presiden beserta sejumlah pejabat kabinet. Periode inilah merupakan situsai yang dan hari paling tegang, negara dalam keadaan darurat bagi Republik Indonesia. Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) berdiri di Sumatera, semetara itu Jenderal Sudirman melasanakan Perang Rakyat Semesta diseluruh tanah air. Di PBB, para pejuang diplomasi tidak akan mundur setapakpun serta tetap mengusahakan negara Proklamasi tegak dan berdiri.

Jendral Soedirman pada waktu itu sebagai panglima besar TNI kondidisinya masih sakit baru saja pulang dari rumah sakit. Belanda memanfaatkan kondisi dalam negri yang mengalami keguncangan akibat pro dan kontra penangkapan elit politi (Presiden dan wakil serta kabinet), serta isyu upaya diplomasi yang gagal, serta membonsai Negara kesatuan Indonesia menjadi negara serikat, ditambah upaya reoganisasi dan rasionalisasi tentara yang merugikan para gerilyawan atau tentara rakyat. Kegaduhan itu dimanfaatkan pihak Belanda untuk melakukan agresi militer ke II dengan berusaha menduduki ibu kota yang berada di Yogyakarta.

Sebulan sebelum meletus agresi II Belanda, Presiden Soekarno berupaya mengkonsolidasikan angkatan pertama kadet tentara yang akan menjadi letnan. Pengarahan penting terhadap kadet itu merupakan pentingnya menjaga keutuhan negara dan tentara harus menjadi garda depan menghadapi penghancur bangsa. Acara yang berlangsung pada tanggal 29 November 1948 di sekolah militer malang dan Bung Karno berpesan kepada 197 kadet Jogja yang berasal dari sekolah militer malang dan mojo agung.

Amanat beliau adalah; “ Anak-anak ku sebentar lagi kalian menjadi letnan, tantangan kalian semakin berat, karena tentara, negara kesastuan dan bhineka tunggal ika adalah satu kesatuan. Satu paket yang tidak bisa dipisahkan atau dihancurkan siapapun. Kalau ada yang mau menghancurkan negara kesatuan Republik Indonesia maka harus menghancurkan TNI dahulu, TNI tidak boleh hancur, TNI harus Jaya.”

Perlawanan terhadap agresi militer II Belanda yang mendarat 19 desember 1948 di lawan oleh tentara dan rakyat dibawah komando Jenderal Soedirman. Pada saat itu Pak Dirman, sapaan rakyat terhadap sang jendral baru saja keluar dari rumah sakit. Pada saat itu juga setelah mendapat informasi adanya agresi belanda beliau bersama sejumlah pasukan dan dokter pribadinya, memtuskan berangkat untuk berperang secara gerilya.

Perang gerilya ini merupakan taktik pertempuran berpola asimetris atau tidak konvensional dalam menghadapi para agresor. Jalur gerilya yang dipilih adalah degan menuju ke arah selatan jawa dan berlangsung sepanjang tujuh bulan. Pasukan Belanda tidak sanggup menembus basis peralawanan gerilya yang berbasis di Sobo sebagai markas sementara, markas gerilya yang berhasil dibangun posisinya dekat Gunung Lawu.
Dari posko utama Sobo beliau beserta dan pasukannya berhasil menyiapkan Serangan Umum 1 Maret 1949. Serangan tersebut berhasil mencapai target pertempuran dan politis mengalahkan belanda, pertempuran heroik itu berhasil di koordinasi dibawah pimpinan Letnan Kolonel Suharto yang di juluki bunga pertempuran. Kekalahan Belanda oleh serangan umum itu berakibat pengakuan dunia Internasinal terhadap Indonesia. Aksi gemilang tersebut menjadi sebuah pengormatan bagi Jenderal Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949.

Sosok fenomenal Jenderal Besar TNI Anumerta Raden Soedirman kelahiran Bodas Karangjati, Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916. Beliau adalah Jenderal Muda pejuang gigih dan cerdas meninggal di Magelang, Jawa Tengah, 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Beliau merupakan seorang perwira tinggi militer Indonesia dan panglima besar pertama Tentara Nasional Indonesia yang berjuang selama masa revolusi kemerdekaan. Sudirman lahir dari pasangan wong cilik, lalu diangkat oleh pamannya, yang merupakan seorang priyayi.

Setelah dibawa pindah bersama keluarganya ke Cilacap pada akhir tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi siswa yang rajin; ia juga sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk organisasi pramuka bentukan organisasi Islam Muhammadiyah. Saat masih di sekolah menengah, Soedirman telah menunjukkan kemampuan sebagai pemimpin; ia juga dihormati dalam masyarakat karena taat pada agama Islam. Setelah keluar dari sekolah guru, ia menjadi guru di sebuah sekolah rakyat milik Muhammadiyah pada tahun 1936; Soedirman akhirnya diangkat sebagai kepala sekolah itu.

Soedirman juga aktif dengan berbagai program Muhammadiyah lain, termasuk menjadi salah satu pemimpin organisasi Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, Soedirman terus mengajar. Pada tahun 1944 ia bergabung dengan angkatan Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang sebagai pemimpin batalyon di Banyumas.

Para pemimpin pendiribangsa ini mewariskan kemerdekaan ini buah dari hasil perang panjang untuk mendapatkannya. Kemerdekaan republik karena perang yang banyak mengorbankan harta dan jiwa raga anak bangsa. Momentum sejarah tersebut berdampak panjang terhadap konfigurasi politik bangsa ini. Rangkaian sejarah bangsa ini masih terpotong-potong dalam berapa fase bagaikan bagai serpihan yang belum utuh.Panggilan bagi mereka yang tulus dan semangat gigih dalam merangkai dan merajut kemurnian sejarah bangsa ini secara utuh.

Pertempuran heroik para pendiri bangsa ini seperti menjadi sepenggal kisah yang mati di pojok sejarah. Kesadaran, semangat dan kegigihan pendiri bangsa yang dikobarkan dalam perang merebut kemerdekaan kini seolah menjadi abu sejarah. Spirit penting perjuangan kemerdekaan perlahan di padamkan dan digeser oleh gelora libido liberalisasi. Banyak kalangan yang berkepentingan mencoba mengubur atau menghilangkan kepingan api sejarah baik oleh pelaku sejarah maupun yang berjarak dengan proses sejarah bangsa ini.

Para generasi penerus bangsa kini diwarisi abu dan debu sejarah, sebuah sejarah yang di kacaukan oleh kepentingan kelompok dan golongan yang berebut kekuasaan politik. Bara panas sejarah bangsa terus bergelora terjadi sejak proklamasi kemerdekaan, tarik menarik kepentingan oleh mereka yang tidak tulus memegang bara sejarah.Perjuangan yang muncul adalah pertarungan terhadap kekuatan yang merongrong keutuhan negara bangsa Indonesia.

Semoga dalam peringatan hari bela negara ini menyadarkan anak bangsa untuk membersihkan debu yang mengkotori sejarah bangsa ini. Memang sekarang era atau zamannya politik yang menentukan hiruk pikuk agenda nasional. Persoalan yang merenggur dan menguras perjalanan bangsa di mainkan oleh elit-elit partai atau kelompok dengan ideologi liberal. Kita memberi catan bahwa sejarah bangsa ini berkali-kali di kacaukan oleh mereka yang tidak menginkan bangsa ini bersatu dan maju. Penghancuran terhadap ideologi pancsila sebagai pondasi bangsa seakan tidak pernah berhenti.

Dengan hari bela negara ini mari kita mengkonsolidasikan kembali cita-cita dan jati diri bangsa ini. Hal inilah yang menjadi kesamaan para pejuang dan para pemimpin seperti soekarno, soedirman dan soeharto. Para pejuang itu pemikiran dan perkataannya tidak pernah berubah berhadapan dengan siapa pun. Namun mereka biasanya menerapkan cara yang berbeda dalam menerapkan mengoprasinalisasikan taktik dan strateginya di lapangan. Kesamaan pemikiran dan perinsip perjuangan mereka menjadi inspirasi penting dalam hari bela negara ini.

Sebuah kesamaan dalam memandang atau cita-cita terhadap masa depan bangsanya. Yaitu sebuah bangsa merdeka yang masyarakatnya memiliki kecintaan terhadap tanah airnya yang meliputi seluruh wilayah nusantara dari utara Pulau Sumatera sampai selatan Pulau Irian. Sehingga rasa persatuan yang timbul aladah dengan memahami bahwa semua suku di dalamnya merupakan satu bangsa yang sama yaitu Bangsa Indonesia. Sebuah bangsa yang berada dalam tata dunia yang saling memahamai bahwasannya setiap bangsa setara dan sejajar kedudukannya. Kedepan sistem demokrasi Indonesia harus memberikan keadilan dalam politik serta menjamin keadilan dalam ekonomi. Suatu sistem Demokrasi yang menjamin akan terciptanya kesejahteraan seluruh rakyatI ndonesia.

SUMBER : pelitaonline.com diakses tgl 26 Maret 2013 jam 7.35

KISAH PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

Archived in the category: Jalan Kehidupan
Posted by sholihin on 27 Mar 13 - 0 Comments

Kisah Pemikul Tandu Jendral Sudirman

Agan mungkin masih inget foto yang ada di buku sejarah. Kalau melihat gambar hitam putih ada orang ditandu, kita langsung berpikir. Jederal Sudirman. Kini tandu tersebut diabadikan di museumMuseum Satria Mandala


Lalu bagaimana dengan nasib para pemikul tandunya? Berikut tulisan tentang nasib mereka.

Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia memang takkan pernah dilupakan rakyat. Akan tetapi, tak banyak sosok pejuang yang bisa diingat rakyat. Djuwari (82 tahun), barangkali satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan. Kakek yang pernah memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman itu, kini masih berkubang dalam kemiskinan.

Tepat pada peringatan proklamasi 17 Agustus, Malang Post berusaha menelusuri jejak pemanggul tandu sang Panglima Besar. Djuwari berdomisili di Dusun Goliman Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, kaki Gunung Wilis. Kampungnya merupakan titik start rute gerilya Panglima Besar Sudirman Kediri-Nganjuk sepanjang sekitar 35 km.

Dari Malang, dusun Goliman bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam perjalanan darat. Kabupaten Kediri lebih dekat di tempuh lewat Kota Batu, melewati Kota Pare Kediri hingga menyusur Tugu Simpang Gumul ikon Kabupaten Kediri. Terus melaju ke jurusan barat, jalur ke Dusun Goliman tak terlalu sulit ditemukan.

Sejam melewati jalur mendaki di pegunungan Wilis, Malang Post pun tiba di pedusunan yang tengah diterpa kemarau. Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman memang sangat jauh dari keramaian kota. Titik start gerilya berada di kampung yang dikepung bukit-bukit tinggi dan tebing andesit.

“Inggih leres, kulo Djuwari, ingkang nate manggul Jenderal Soedirman, sampeyan saking pundi?”(iya benar, saya Djuwari, yang manggul Jenderal Soedirman, anda dari mana?) kata seorang kakek yang tengah duduk sambil memegang tongkat di sudut rumah warga Dusun Goliman.

Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan.

Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.

Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai.

“Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk,”(yang penting sudah pernah manggul jenderal, pak Dirman, saya manggul dari goliman sampai bajulan, itu masuk nganjuk) ujar suami almarhum Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya.

Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun.

Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras.

“Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman),”(dulu manggulnya ya gantian, kira2 ada 7 orang, yang ikut manggul dari goliman itu Warso dauri, martoredjo, sama Djoyo) akunya.

Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa.

(ILLUSTRASI)
“Teko Bajulan (Nganjuk), aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarit) karo sarung,” (sampai bajulan (Nganjuk), aku sama yg ikut mikul pulang ke Goliman, pas itu di kasih kain sama sarung) imbuhnya.

Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal. Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya.
“Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh,” (Pak Dirman pesen, hidup itu yang rukun, sama tetangga harus berbagi, se desa harus rukun semua) katanya.
.

Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan. Ketika ditanya soal periode kepemimpinan Presiden Soekarno hingga SBY, Djuwari dengan tegas mengatakan tidak ada bedanya.

Foto Bpk. Djuwari

SUMBER : http://www.kaskus.co.id diakses tgl 27 Maret 2013  jam 7.15

DAFTAR GUNUNG GUNUNG DI INDONESIA

Archived in the category: Jalan Kehidupan
Posted by sholihin on 18 Mar 13 - 0 Comments

Daftar gunung di indonesia,,,,

Berdasarkan nama

A
Gunung Agung, di Pulau Bali
Gunung Abang, di Pulau Bali
Gunung Anjasmara, di Jawa Timur
Gunung Argopuro, di Jawa Timur
Gunung Arjuno, di Jawa Timur
Gunung Aseupan, di Banten

B
Bur Ni Telong, di Nad
Gunung Baluran, di Jawa Timur
Gunung Batok, di Jawa Timur
Gunung Batur, di Bali
Gunung Bandahara, di NAD
Gunung Bawakaraeng, di Sulawesi selatan
Gunung Bromo, di Jawa Timur
Gunung Bukitunggul, di Jawa Barat
Gunung Burangrang, di Jawa Barat
Gunung Botto Kabobong, di Sulawesi selatan

C
Gunung Cikurai, di Jawa Barat
Gunung Ciremai, di Jawa Barat

D
Gunung Dempo, di Sumatera Selatan

G
Gunung Galunggung, di Jawa Barat
Gunung Gamalama, di Sulawesi
Gunung Gamkonora, di Maluku Utara
Gunung Gede, di Jawa Barat

H
Gunung Halimun, di Banten
Gunung Handeuleum, di Banten

I
Kawah Ijen, di Jawa Timur

J
Puncak Jaya di Papua

K
Gunung Kabaena, di Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara
Gunung Karang, di Banten
Gunung Kelud, di Jawa Timur
Gunung Kerinci, di Sumatera Barat
Gunung Krakatau, di Selat Sunda

L
Gunung Leuser, di NAD
Gunung Lawu, di Jawa Timur

M
Gunung Malabar, di Jawa Barat
Gunung Marapi, di Sumatera Barat
Gunung Merapi, di Jawa Tengah
Gunung Merbabu, di Jawa Tengah
Gunung Muria, di Jawa Tengah

P
Gunung Pangrango, di Jawa Barat
Gunung Papandayan, di Jawa Barat
Gunung Patuha, di Jawa Barat
Gunung Penanggungan, di Jawa Timur
Gunung Perkison, di NAD
Gunung Pesagi, di Lampung
Gunung Pesawaran, di Lampung
Gunung Prahu, di Jawa Tengah
Gunung Pulasari, di Banten

R
Gunung Raung, di Jawa Timur
Gunung Rinjani, di NTB
Gunung Rajabasa, di Lampung

S
Gunung Salak, di Jawa Barat
Gunung Sanggabuana, di Jawa Barat
Gunung Semeru, di Jawa Timur
Gunung Seminung, di Lampung
Gunung Sibayak, di Sumatra Utara
Gunung Sibuatan, di Sumatera Utara
Gunung Sihapuabu, di Sumetera Utara
Gunung Sinabung, di Sumatera Utara
Gunung Slamet, di Jawa Tengah
Gunung Seblat, di Bengkulu
Gunung Singgalang, di Sumatera Barat
Gunung Sago, di Sumatera Barat
Gunung Sumbing, di Jawa Tengah

T
Gunung Talamau
Gunung Talang, Sumatra Barat
Gunung Tambora, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
Gunung Tampomas, Sumedang, Jawa Barat
Gunung Tandikat, Sumatra Barat
Gunung Tanggamus, di Lampung
Gunung Tangkuban Parahu, di Jawa Barat

W
Gunung Welirang, Jawa Timur
Gunung Wilis, di Jawa Timur
Gunung Wayang, di Jawa Barat

Berdasarkan letak

Gunung di Irian
Gunung Jaya – Puncak Jaya merupakan sebuah gunung yang terdapat di provinsi Irian Jaya, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian setinggi 4880m. Puncak Jaya adalah gunung tertinggi di Indonesia.

Gunung di Jawa
Gunung Anjasmara (2.277 m)
Gunung Argapura (3.088 m)
Gunung Arjuno (3.339 m)
Gunung Bromo (2.392 m)
Gunung Bukit Tunggul (2.208 m)
Burangrang (2.057 m)
Gunung Cereme (3.078 m)
Gunung Cikuray (2.818 m)
Gunung Galunggung (2.167 m)
Gunung Gede (2.958 m)
Gunung Guntur (2.249 m)
Gunung Karang (1.245 m) sekitar 40 KM selatan Pandeglang
Gunung Kembar I (3.052 m)
Gunung Kembar II (3.126 m)
Gunung Lawu (3.245 m)
Gunung Semeru (3.676m) gunung tertinggi di pulau Jawa dan gunung berapi ketiga tertinggi di Indonesia
Gunung Malabar (2.343 m)
Gunung Masigit (2.078 m)
Gunung Merapi (2.911 m)
Gunung Merbabu (3.145 m)
Gunung Pangrango (3.019 m)
Gunung Papandayan (2.665 m)
Gunung Patuha (2.386 m)
Gunung Penanggungan (1.653 m)
Gunung Raung (3.332 m)
Gunung Salak (2.211 m)
Gunung Slamet (3.432 m)
Gunung Sumbing (3.336 m)
Gunung Sundara (3.150 m)
Gunung Tangkuban Perahu (2.084 m)
Gunung Ungaran (2,050 m)
Gunung Wayang (2.181 m)
Gunung Welirang (3.156 m)
Gunung Wilis (2.552 m)

Gunung di Kalimantan
Gunung Palung (1116 m)

Gunung di Sulawesi
Gunung Lokon (1.689 m)
Gunung Klabat
Gunung Mahawu
Gunung Bawakaraeng (2.705 m)
Gunung Latimojong (3.680 m)

Gunung di Sumatra
Gunung Dempo (3159 m) Sumatra Selatan
Gunung Kerinci (3.805 m) Jambi gunung tertinggi di Sumatra, kedua di Indonesia dan gunung berapi tertinggi di Indonesia
Sibayak (2.212 m) Sumatra Utara
Gunung Pesagi (2.262 m) Lampung
Gunung Singgalang (2.877 m) Sumatra Barat
Gunung Marapi (2,891.3 m) Sumatra Barat
Gunung Talamau (2,912 m) Sumatra Barat
Gunung Tandikat (2438 m) Sumatra Barat
Gunung Leuser (3172 m) NAD
Gunung Perkison (2300 m) NAD

Tempat lainnya
Gunung Agung (3.142 m) di Bali
Gunung Rinjani (3.726 m) di Lombok, gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia
Gunung Tambora (2.850 m) di pulau Sumbawa
Krakatau di Selat Sunda

semoga bermanfaat,,, Kalem

SUMBER : Komunitas Penikmat Alam Indonesia dan sergapindonesia. com

Chat capital online revenue online pharmacy ratings Canada pharmacies pharmacies online canada drugs online pharmacy Canada Canada drugs Canadian pharmacies reviews online pharmacy online Canada pharmacy GetCanadianDrugs reviews Canadian pharmacies reviews canada prescriptions